Harian Politik

Menyajikan Fakta dari Berbagai Sisi

Tentang Sabar dan Hal-hal yang Tak Perlu Dilawan

Dalam kehidupan, realitas tidak selalu berjalan lurus. Ada kalanya kebenaran dikaburkan, kesalahan diputarbalikkan, dan pihak yang menyakiti justru tampil sebagai yang paling tersakiti. Fenomena playing victim menunjukkan bagaimana narasi dapat dibentuk sedemikian rupa hingga batas antara benar dan salah menjadi kabur. Di titik inilah sabar menjadi penting, bukan sebagai bentuk diam atau tunduk pada keadaan, melainkan kemampuan untuk tetap mengendalikan diri, menjaga batas, dan tidak terseret ke dalam kekacauan yang diciptakan orang lain. Dalam ruang yang penuh bias, sabar menjadi cara untuk tetap utuh, tanpa harus membuktikan diri pada semua orang.

Sabar merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab, dan sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Asal katanya adalah “shabara”, yang membentuk infinitif (masdar) menjadi “shabran”. Sabar dari segi bahasa berarti menahan dan mencegah, sementara sabar dari segi istilah adalah menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah

Nilai kesabaran sendiri dapat dibangun melalui pendekatan spiritual, seperti mendekatkan diri kepada Allah SWT, meningkatkan ketakwaan, serta memperkuat keimanan. Dalam ajaran Islam, sabar menempati posisi yang sangat fundamental. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah: 153). Hal ini tidak hanya menunjukkan keutamaan sabar, tetapi juga menghadirkan ketenangan bahwa setiap kesulitan tidak dihadapi sendirian. Lebih dari itu, konsep sabar juga dipertegas dalam hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa sabar merupakan dhiya atau cahaya yang terang. Analogi ini memberikan gambaran yang kuat bahwa kesulitan dan ujian hidup diibaratkan sebagai kegelapan, sementara sabar menjadi cahaya yang menuntun manusia untuk keluar darinya.

Pandangan ulama juga memperkuat makna sabar sebagai bentuk pengendalian diri yang utuh. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan  sabar adalah menahan diri dari rasa gelisah, cemas, dan amarah; menahan lisan dari keluh kesah; serta menahan anggota tubuh dari tindakan yang tidak terarah. Sejalan dengan hal tersebut, Rasulullah SAW memberikan peringatan agar manusia tidak mudah berharap pada kematian ketika sedang tertimpa kesulitan. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik ra, disebutkan apabila seseorang berada dalam kondisi yang sangat berat, hendaknya ia berdoa kepada Allah: memohon agar diberikan kehidupan jika itu lebih baik baginya, atau diwafatkan jika itu yang terbaik. Hal ini menunjukkan bahwa sabar tidak hanya berkaitan dengan ketahanan emosional, tetapi juga berkaitan dengan keimanan dan sikap tawakal kepada Allah SWT.

Sabar menemukan maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga, sabar hadir dalam bentuk kemampuan menahan emosi, meredam ego, dan menjaga komunikasi tetap hangat. Ia menjadi dasar agar hubungan tetap utuh, tanpa harus saling melukai. Di lingkungan kampus, sabar diuji melalui tekanan akademik, ekspektasi, hingga dinamika relasi yang tidak selalu berjalan adil. Tidak semua usaha langsung berbuah hasil, dan tidak semua orang berjalan dengan cara yang sama. Sementara dalam kehidupan masyarakat, sabar berperan sebagai penyeimbang. Di tengah perbedaan pandangan dan kepentingan, sabar menjaga seseorang untuk tidak mudah terpancing, tidak tergesa dalam menilai, dan tetap bijak dalam bersikap.

Penulis: Nadiah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi (Prodi) Jurnalistik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *