Harian Politik

Menyajikan Fakta dari Berbagai Sisi

Menghidupkan Nilai Dermawan dalam Kepemimpinan Modern

Di tengah hiruk-pikuk politik yang kerap diwarnai perebutan kekuasaan dan kepentingan, ada satu nilai yang justru jarang disorot yaitu dermawan. Bukan sekadar memberi bantuan, tetapi keberanian pemimpin untuk mengutamakan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Ketika pemimpin memilih mengalokasikan anggaran untuk pendidikan, kesehatan, atau kesejahteraan masyarakat luas di situlah dermawan menemukan makna yang lebih luas.

Secara bahasa, dermawan berarti pemurah hati atau suka berderma. Secara istilah, dermawan adalah memberikan sebagian harta kepada yang membutuhkan dengan ikhlas tanpa paksaan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menyebut setiap pagi dua malaikat berdoa: satu mendoakan ganti bagi orang yang berinfak, dan satu lagi mendoakan kebinasaan bagi orang kikir. Hal ini menegaskan sikap berbagi memiliki nilai yang tinggi di sisi Allah SWT.

Al-Qur’an juga menjanjikan balasan berlipat ganda bagi orang yang bersedekah, bahkan hingga tujuh ratus kali lipat. Dalam Surat Al-Hasyr ayat 9, dijelaskan bahwa orang beriman mengutamakan orang lain meski berada dalam kesulitan. Sejalan dengan itu, ulama Al-Qusyairi menyebut dermawan tidak hanya berkaitan dengan harta, tetapi juga tercermin dari sikap ringan menolong dan mudah memaafkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, dermawan tidak selalu tampil besar, tetapi justru hidup dalam hal-hal yang sering dianggap sepele. Di dalam keluarga, ia hadir saat seseorang memilih berbagi, mengalah, dan peduli pada sesama anggota keluarga. Di kampus, ia terlihat dalam solidaritas, ketika mahasiswa saling membantu, berbagi ilmu, dan bergerak bersama untuk kepentingan sosial. Sementara di masyarakat, dermawan menjadi kekuatan yang menyatukan, hadir dalam sedekah, gotong royong, hingga aksi kemanusiaan.

Di tengah hiruk-pikuk politik yang kerap diwarnai perebutan kekuasaan dan kepentingan, ada satu nilai yang justru jarang disorot yaitu dermawan. Bukan sekadar memberi bantuan, tetapi keberanian pemimpin untuk mengutamakan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Ketika pemimpin memilih mengalokasikan anggaran untuk pendidikan, kesehatan, atau kesejahteraan masyarakat luas di situlah dermawan menemukan makna yang lebih luas.

Secara bahasa, dermawan berarti pemurah hati atau suka berderma. Secara istilah, dermawan adalah memberikan sebagian harta kepada yang membutuhkan dengan ikhlas tanpa paksaan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menyebut setiap pagi dua malaikat berdoa: satu mendoakan ganti bagi orang yang berinfak, dan satu lagi mendoakan kebinasaan bagi orang kikir. Hal ini menegaskan sikap berbagi memiliki nilai yang tinggi di sisi Allah SWT.

Al-Qur’an juga menjanjikan balasan berlipat ganda bagi orang yang bersedekah, bahkan hingga tujuh ratus kali lipat. Dalam Surat Al-Hasyr ayat 9, dijelaskan bahwa orang beriman mengutamakan orang lain meski berada dalam kesulitan. Sejalan dengan itu, ulama Al-Qusyairi menyebut dermawan tidak hanya berkaitan dengan harta, tetapi juga tercermin dari sikap ringan menolong dan mudah memaafkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, dermawan tidak selalu tampil besar, tetapi justru hidup dalam hal-hal yang sering dianggap sepele. Di dalam keluarga, ia hadir saat seseorang memilih berbagi, mengalah, dan peduli pada sesama anggota keluarga. Di kampus, ia terlihat dalam solidaritas, ketika mahasiswa saling membantu, berbagi ilmu, dan bergerak bersama untuk kepentingan sosial. Sementara di masyarakat, dermawan menjadi kekuatan yang menyatukan, hadir dalam sedekah, gotong royong, hingga aksi kemanusiaan.

Penulis: Nadiah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi (Prodi) Jurnalistik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *